Nagabonar sebagai naskah….
Scene 1
Pemeran : NagaBonar, Prajurit Jepang dan Polisi, background cast: Penduduk Pasar.
Pada suatu hari yang cerah, di suatu pasaryang hiruk-pikuk di sebuah kota di Sumatera Utara, tahun menunjukkan angka 1945, tersebutlah seorang lelaki dewasa bernama NagaBonar.
(NagaBonar Memasuki panggung)
Seorang lelaki berbadan tegap, berkulit gelap dengan muka yang selalu serius, tidak ganteng… tapi juga tidak ganteng. Ia selalu berjalan petantang petenteng layaknya juragan tempe yang sudah kaya raya. Ia adalah seorang Seorang Indonesianis asli yang memang sudah bangga menjadi seorang Indonesia, dari zaman ayah, kakek, moyang, buyut, ayahnya buyut, kakeknya buyut, moyangnya buyut sampai buyutnya buyut sudah menjadi indonesianis. hanya saja…
(tentara jepang memasuki panggung, naga bonar menabraknya, mengambil dompet dan menunjukkan pada penonton)
Ia adalah seorang pencopet kelas barakuda. Tetapi…
(polisi Indonesia memasuki panggung)
hari ini adalah hari sialnya. Seorang polisi memergoki dia dan mengejarnya hingga mengitari pasar. Dan akhirnya tertangkap. (polisi menangkap naga bonar) ternyata
(polisi mulai meringkus naga bonar)
mereka berdua saling kenal. Polisi itu adalah teman satu kampung dari nagabonar. Ia adalah teman sepermainan yang mengenal betul bagaimana sifat dan tabiat nagabonar yang sebenarnya. Juga kepandaianya dalam menyusun strategi. Lalu, polisi itu teringat pada satu hal, ia teringat akan kampungnya yang segera akan diserang oleh penjajah. Lalu ia pun menanyakan nagabonar akan kesediaanya mengikuti perang di kampung mereka… tanpa pikir panjang, nagabonarpun setuju dan mereka segera pergi menapaki jalan pulang
(Nagabonar dan Polisi sama-sama keluar panggung)
Scene 2
Pemeran: Tentara Belanda, Tentara Indonesia, Nagabonar, Polisi, Ibu Nagabonar,
(SItuasi Perang)
tat tat tat tat tat tat dhuar!!!! Pada hari yang sangat cerah, Ditengah suasana perang, yang sangat dahsyat di sebuah kampung di daerah sumatera utara terjadi sebuah perang yang sangat dahsyat. Kampung itu pada cerita ini merupakan sebuah kampung yang menjadi salah satu kantong perlawanan tentara Indonesia menghadapi agresi belanda yang ke dua. Di tengah suasana perang yang hingar-bingar itulah nagabonar diperkenalkan pada sebuah perang
(Nagabonar memasuki panggung bersama polisi)
ini adalah perang pertama nagabonar, awalnya ia celingukan dan kagok melihat perang yang di depan matanya kebih kurang seperti permainan bentengan. Sehingga, karena ia memang ahli dalam permainan benteng-membenteng sehingga ia langsung tahu apa yang salah di dalam perang itu. Tanpa berpikir panjang langsung ia berjalan kearah garis paling depan tentara-tentara yang lain dan mulai ikut andil dalam penembak-menembak penembakan musuh.
(NagaBonar Berjalan ke depan tentara Indonesia)
Duarr- deshiu!! Dor-dor-dor moncong senjatanya pun menyalak sama kerasnya dengan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. Sambil sesekali menghindari peluru ia menoleh ke belakangnya dan melihat polisi yang membawanya bengong seperti bencong melihat keberanianya. Ia pun segera memerintahkan polisi itu agar mengambil posisi siaga tembak, nah itu adalah perintah pertama nagabonar. Anehnya meskipun status nagabonar waktu itu harsnya menjadi footsoldier atau bahasa slang nya serdadu babu, polisi itupun mengikuti perintahnya. Ia mengambil posisi siaga dan mulai memuntahkan pelurunya kearah tentara belanda. Perang itupun berubah arah angin. Sekarang nagabonar menjadi pemimpin dari tentara Indonesia. Ia mulai memberi perintah pada tentara lain untuk keluar dari lubangnya dan mulai maju menekan tentara musuh.
(tentara Indonesia mulai maju dari tempatnya)
dan terbukti setelah satu tentara belanda tertembak (salah satu tentara belanda tertembak dan mundur keluar panggung) para musuh pun mulai menarik mundur pasukanya. Secara pelan tapi pasti mereka berjalan mundur dan meninggalkan medan perang dan hari inipun masih milik Indonesia. Dan langitpun laksana pecah akan teriakan tentara yang baru memenangkan pertempuran. Semua tentara Indonesia meletupkan patriotisme mereka
(tentara Indonesia melompat-lompat kegirangan)
Lalu tanpa melupakan sosok pemimpin yang mereka belum kenal, langsung para tentara Indonesia itu , memeluk dan menjabat tangan Nagabonar, memberi selamat sekaligus berkenalan. Terakhir datang polisi yang membawa Nagabonar lalu memberikanya mandat untuk menjaga kampung itu. Tiba-tiba…
(dari luar panggung terdengar teriakan NAGABONAAAAAARRRR!!!!!) terdengar teriakan sang sangat memekakkan telinga, secara spontan semua orang di mendan perang terkejut! Ternyata
(ibu nagabonar memasuki panggung)
itu adalah ibu dari nagabonar. Meskipun nagabonar adalah seorang yang sangat ahli dalam menyusun strategi perang dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang sangat tajam ia adalah figur anak yang amat sangat penurut sekali kepada ibunya. Ibu tunggal yang seorang diri sudah membesarkanya dari kecil. Tanpa memperdulikan gagap gempita kemenangan pertempuran yang baru di raih, ibunya langsung berjalan kearah nagabonar dan memarahinya karena tidak langsung pulang ke rumah setelah merantau jauh ke kota. Di depan anak tentara-tentara yang lain iapun dijewer untuk pulang ke rumah.
(nagabonar dan ibunya keluar panggung)
meninggalkan para tentara yang lain dalam keadaan bingung.
Scene 3
Pemeran : NagaBonar, Polisi, tentara Indonesia, tentara belanda
Hari ini kembali terjadi perang seperti hari-hari sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnya. Hanya saja berbeda dengan hari-hari sebelumya hari ini tidaklah secerah hari-hari kemarin dan hari hari kemarinya. Dalam cerita ini nagabonar kembali menjadi jenderal atas pengakuanya sendiri. Tanpa bantuan tambahan tentara karena status yang anonimus. Ia dan tentaranya yang tinggal segelintir berperang habis-habisan melawan tentara musuh yang tidak ada habis-habisnya. Seperti biasanya ia berada di barisan paling depan tanpa gentar terus menggempur musuh dengan timah panas sembari mengibarkan merah putih yang ada di tanganya. Namun hari ini logika berbicara
(salah satu tentara nagabonar tertembak)
Satu persatu tentara Indonesia di kampung itu sudah menemui batas kewajaranya. Tanpa pelatihan militer, tanpa perbekalan senjata yang modern dan memadai, mereka jatuh ke atas tanah bersimbah darah. Namun layaknya seorang hanoman di kitab Ramayana, napoleon Bonaparte di perang waterloo, NagaBonar masih memimpin pasukanya.
(salah satu tentara belanda tertembak)
Ia masih meneriakkan sumpah serapah kebencian pada musuh, ia masih berteriak teriak membakar semangat pasukanya “Kampung ini milik kita, Indonesia milik kita. Pertahankan harga diri ibu pertiwi sampai titik darah penghabisan jangan ada yang mundur, lebih baik mati berkalang tanah daripada jadi babu penjajah APA KATA DUNIAAAA???” hingga sebuah peluru musuh bersarang di perutnya. NagaBonar tersungkur di atas tanah.
(nagabonar jatuh sambil memegangi perutnya bendera dibawa dalam posisi vertical tidak menyentuh tanah)
Ditengah desingan peluru ia merangkak mencoba untuk menegakkan bendera ditengah-tengah medan perang untuk membuktikan bahwa hari ini kembali milik ibu pertiwi. Ia mencoba merangkak saat kedua belah pihak sama-sama berjatuhan. Raungan baik tentara musuh maupun tentara Indonesia silih berganti.
(satu persatu tentara kedua belak pihak tersungkur dan menyisakan satu tentara Indonesia yang terluka)
Bau anyir memenuhi medan perang tanah berubah menjadi kolam darah kental yang mengalir dari sumber yang masih segar. Seorang tentara Indonesia yang masih hidup, mungkin satu-satunya makhluk yang masih hidup di medan perang itu berjalan tertatih-tatih mendekati nagabonar yang masih merangkak-rangkak, merayap-rayap, meraih-raih berusaha menegakkan panji yang paling sakral untuk Negara Indonesia.
(tentara mencoba membantu nagabonar berdiri namun terjatuh lagi)
Pejuang itu mencoba membantu Nagabonar untuk berdiri namun ia sendiri tak kuat dan terjatuh. ia mencoba membantunya berdiri kembali namun nagabonar melarangnya. nagabonar mencoba membisikkan sesuatu pada pejuang itu. Selesai nagabonar membisikkan pesanya, tiba-tiba tentara tersebut menangis meraung-raung. Lalu mengambil bendera yang ada di tangan NagaBonar dan membaringkanya untuk membantunya melewati pintu penyebrangan ke alam selanjutnya. Nagabonarpun tewas. Menyisakan pejuang yang tertunduk di bawah bendera sangsaka merah putih.
( pembaca puisi masuk, berlatar belakang gerak teatrikal)
No comments:
Post a Comment