Wanita Sang Perempuan
Hari itu seperti biasa layaknya bulan-bulan juli lainya, matahari menyengat dengan beringas, memanggang aspal salah satu komplek perumahan mewah di kota malang. (Hah? komplek apa? Yaa… terserah mau Araya kek …,PBI, Griyasanta… Ripersaid sebutin semuanya pokoknya komplek mewah) Tidak terluput sebuah rumah mewah dalam komplek mewah pada masyarakat kota yang pola hidupnya hampir mewah. Rumah itu dihuni oleh tiga orang wanita dan satu orang perempuan. Mereka hidup berdampingan dengan status sosial yang tidak bisa dikatakan sama, dan karakter yang tidak bisa dibilang mirip. Namun di siang hari yang panas ini sulit menemui para wanitanya. Tunggu hingga…Nah pukul 18.00, mulai datang sebuah mobil jaguar S-class baru berwarna silver memasuki pelataran rumah yang ber-air mancur. Pintu terbuka dan dari dalamnya keluar wanita pertama yang bisa kita identifikasi sebagai pemilik rumah, ibu dari dua orang wanita lain dan majikan utama dari satu orang pembantu perempuanya. Ia memiliki sebuah nama tentunya. Namun ia dikenal dengan sebutan Evi, sang Nyonya besar. Sosoknya sangat memesona untuk wanita yang sudah berusia lebih dari 50 tahun, dengan tinggi sekitar 163 dan berat terlihat mendekati 50 (akan dilakukan diet ketat jika melewati batas tersebut) Suaminya sudah lama mangkat, menyebabkan tidak ada lagi lawan jenis dari wanita dan perempuan (apapun itu) di rumah mewah itu. Nyonya Evi menggantikan suaminya dalam mengurus semua sumber uang keluarga. Ia adalah seorang pemilik dari perusahaan monopoli terbesar di Negara ini yang terbentang dari ujung nusantara hingga ujungnya yang lain. Sehingga selalu menjadi icon sejati untuk seorang wanita karir yang sukses. Masyarakat mengenalnya sebagai wanita independen, mandiri yang sering tampil di berbagai media. Pembangunan citra itu sendiri dirintis dengan segala keaktifanya dalam dunia pemberdayaan perempuan maupun organisasi-organisasi kewanitaan. Ia juga sering diundang dalam seminar-seminar dengan tema kewanitaan. Memiliki kehidupan ekstern dan inten yang sempurna, hingga hampir tidak ada infotainment yang berani mengusik ketenanganya. Hari itu adalah hari kedatanganya kembali ke rumahnya. selama beberapa bulan ia berada di luar negeri untuk mengurus bisnis, sekaligus meneruskan studinya.
Ketika pintu terbuka Nyonya Evi disambut satu-satunya perempuan di rumah itu. Ia adalah seorang pembantu rumah tangga, yang mengurusi semua urusan rumah itu. Semua memanggilnya dengan sebutan ‘bik nah.’ Tinah? Anah? atau Genah? Tidak ada lagi yang ingat nama aslinya. Suami Nyonya Evi mungkin hanya satu-satunya orang yang ingat nama perempuan itu, selain dirinya sendiri. Ia sudah lama bekerja di keluarga itu. Memang beberapa hal bisa terhapus dengan berjalanya waktu, disertai sedikit ketidakpedulian. Bik nah menyambut majikanya dengan sopan-santun seorang jongos kuno. Namun bukanya dibalas keramahan, malah dampratan yang merajam lubang telinganya. Wajar, menurut otaknya yang memang dibentuk berpikiran jongos. Lalu majikanya itu menyuruhnya menyiapkan makan malam seperti biasa, untuk dua wanita yang akan segera datang. Masakan bik nah sangat enak. Bahkan Nyonya Evi tidak malu mengakuinya sebagai masakanya sendiri, apabila ada relasi atau temanya yang datang untuk makan. Hal yang juga dilakukan anak-anaknya.
Benar juga, beberapa menit kemudian terdengar deru mobil Honda civic estillo itu mulai memasuki mendekat, dan akhirnya hilang sama sekali. Pintu depan yang terbuka memvisualisasikan sosok wanita muda berumur sekitar enam belas tahun, pada terangnya lampu teras. Untuk wanita berumur sekitaran itu, tubuhnya yang mungil terlihat sangat menggiurkan. Bertinggi badan yang kurang lebih sama dengan ibunya, balutan boob-tube (kemben) pink dengan rok mininya menyajikan pemandangan bagian tubuh wanita yang bisa menohok sisi otak paling kotor para lawan jenisnya (apapun itu). Menyadari dari awal mobil ibunya sudah terparkir di pelataran, ia langsung bergegas ke kamar ibunya yang terletak di ujung utara lorong lantai dua. Ternyata benar ia menemui ibunya sedang berganti pakaian dan langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Nyonya Evi juga terlihat sangat senang melihat anak bungsunya yang pernah ia beri nama Sekar ini. Lalu Sekar tidak dapat lagi menahan dirinya untuk bercerita tantang kehidupanya selama Nyonya Evi berada di luar negeri. Tentang kehidupan barunya di dunia sinetron yang sudah meraup keuntungan. Tentang karir modelingnya yang menjanjikan masa depan. Tentang antrian panjang lawan jenisnya yang menunggu sebuah anggukan kepala. Nominal uang yang sudah ia belanjakan, dan fasilitas-fasilitas mewah yang telah menjadi lebih kebutuhan daripada mimpi bagi sebagian besar orang. Nyonya Evi tersenyum mendengar arah pembicaraan anaknya, dan langsung mengambil koper besarnya untuk mengeluarkan beberapa barang. Ia lalu memberikan barang-barang tersebut pada Sekar. Seketika wajah anaknya tembah berbinar mendapatkan pesanan dari orange roadnya itu. Walaupun raut wajah ketidakpuasan kembali muncul ketika ia memasuki kembali kamarnya.
Tepat pukul 20.00 keluarga itu sudah berkumpul di meja makan dekat dapur bersih lantai satu. Di situ nampak pula anak tertua Nyonya Evi yang sudah pulang dari kampus, tempat ia menuntut ilmu dan membangun egoismenya. Dengan bersemangat Nyonya Evi berniat menyenangkan hati anak sulung itu dengan sebuah hadiah yang khusus dibawanya dari London dan Singapur. Tetapi wanita yang sudah di kenal luas dengan sebutan Puspa itu menolak dengan lembut. Ia menjelaskan pada Nyonya Evi tentang prinsip kesahajaan yang ia anut dan prinsip hedonisme yang menurutnya amat tidak sesuai dengan kondisi masyarakat mayoritas negara saat ini. Nyonya Evi mungkin lupa dengan sifat dan prinsip yang dianut anaknya itu. Berbeda dengan adik dan ibunya, Puspa adalah sosok yang sangat idealis dan berupaya tidak bergantung dengan apapun, tidak terkecuali limpahan harta keluarga. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran yang tercermin lewat prestasi-prestasi yang ia raih dalam berbagai bidang. Dari akademis di universitasnya, olahraga, Seni, hingga Keorganisasian. Juga terlihat lewat tampak fisik yang ia selalu kenakan untuk mempertegas image dirinya. Wanita yang bertinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter itu selalu terlihat lebih tua daripada umurnya dalam balutan kemeja kotak-kotak dan rok sepan. Namun dibalik itu semua Puspa diam-diam menyimpan rasa kagum kepada Nyonya Evi yang dianggapnya orang paling berhasil dalam kehidupan seorang wanita. Terutama bagaimana ibunya itu berhasil hidup dan menghidupi penghuni rumah yang lain tanpa keberadaan seorang lawan jenis (apapun itu). Sebab berbeda dengan adiknya Puspa sangat menolak keberadaan lawan jenis yang dianggapnya merupakan sebuah inefisiensi dan inefektifitas yang berlebihan dan perlu ‘dinormalkan.’ Ia menganggap jika wanita sudah mampu melaksanakan semua yang dikerjakan lawan jenisnya (apapun itu) untuk apa lagi ada lawan jenis itu? Untuk apa, jika rekayasa genetika sudah mampu membuat wanita mengandung. Untuk apa, jika peralatan dan mesin bisa memberikan kepuasan seksualitas lebih daripada yng diberikan lawan jenis. Untuk apa hormon-hormon yang memacu rasa cinta bisa dihilangkan atau di’belokkan’ untuk sesama jenis? Ketidakperluan akan lawan jenis adalah jawaban Puspa atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Terlepas dari semua itu, tanpa terbendung langit terus menghitam dan akhirnya tergantikan oleh sorot-sorot lampu kota.
Malam berjalan seperti sebuah malam di rumah-rumah pada umumnya. Tanpa deru mobil Sekar yang baru memasuki pelataran rumah beserta teman-teman ‘Gaul-nya’ ketika umum manusia bersiap menunaikan tahajud. Namun Pagi menjadi sebuah hal yang paling tidak lazim di keluarga manapun, ketika ada suara tangis bayi terdengar nyaring didalam rumah. Hal itu memancing keningintahuan seluruh penghuninya dan membuat mereka melongok dari luar kamar. Ternyata bik nah sedang membawa seonggok bayi laki-laki yang masih merah. Dengan muka gembira tertahan, dan rasa marah Nyonya Evi segera turun dari tangga dan mulai mengintrogasi bik nah, di ruang tamu tempat mereka berada sekarang. Sekar dengan wajah gembira bercampur gemas menyusul ibunya menuruni tangga, untuk melihat makhluk mungil itu. Lain halnya dengan Puspa yang tetap berada dikamar sambil menggerutu tentang keberadaan lawan jenis, di rumah itu. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, ketika Nyonya Evi memanggilnya untuk mengadakan interogasi massal. Disanalah mereka berkumpul untuk pembicaraan yang pasti, dalam menyikapi kejadian seperti itu. Masing-masing penghuni terlihat dengan ekspresinya masing-masing. Sekar dengan senyum yang tidak mau lepas, Puspa dengan air muka keruh nan kusai masam, bik nah dengan ketakutan dan pengharapanya, menyisakan Nyonya Evi yang tidak memperlihatkan ekspresi berarti.Hanya hitungan detik semua itu langsung hilang dari wajah kedua orang wanita dan satu orang perempuan itu dikala sang empunya hajat ,mengentak dengan kalimat yang menggelegar dengan menanyakan
“bik nah! ana’e sopo iku? dan bagaimana caranya orok itu, sampai masuk di rumah ini?”
“Jawab bik nah! dasar heh! perempuan kampung! ini majikanmu ngomong tau!”
Kelelahan karena semalaman dihabiskan menyetrika segunung pakaian milik para wanita itu, bibir bik nah mulai bergetar dan mengeluarkan suara perlahan,”ssss...saya nemu Nyah di bak sampah depan rumah depan rumah tadi pppp...pas saya mmm...mau buang sampah
“Kamu mau coba bohong ya?” bentak Nyonya Evi sembari mendaratkan tanganya di pipi bik nah.
“aaa...ampun Nyah saya tidak berani.” kali ini isakan bik nah dibarengi tangis keras bayi yang ada di gendonganya. Tubuh ringkih makin meringkih di kaki sofa yang diduduki kedua anak Nyonya Evi.
“Tidak! saya tau kamu bohong! kamu harus bohong! jangan pikir air mata yang mengalir di kedua pipi tomatmu itu bisa mengelabuhi Ndoromu ini ya! Sebelum saya pergi kamu pasti sudah main gila dengan si penjual serabi itu! si sapa namanya? Tarjo...Barjo...ppp...Parjo Ah mbuh pokoknya di! iya kan? Sudah ngaku saja sebelum kamu, saya bawa ke kantor pulisi gara-gara kumpul kebo? Pake ngaku nemu di tempat sampah segala! memang kalian perempuan dan bayi laki-laki yang menyedihkan pantas di tempat sampah. Kalian memang sampah seperti sampah yang pernah menghuni rumah ini!” Bentak Nyonya Evi dengan kesimpulan dari hasil olah imajinasinya akibat kebanyakan nonton infotainment.
“Ssss...saya tidak bbb....bohong Nyah, Keluar saja saya ttt..tidak berani, apalagi sampai berbuat itu,,, Nyah bisa bertanya pada Ndoro Putri sekalian...” Pembelaan itu menyedot seluruh keberanian bik nah, hingga ia menjadi lemas, dengan kesiapanya kembali menerima pukulan sapu, sambil berharap kencing yang ditahanya dari tadi tidak keluar waktu itu terjadi.
Nyonya Evi lalu melemparkan pandangan ke arah dua putrinya, dan dijawab oleh gelenga kepala kedua wanita itu dengan bonus senyum sinis di wajah Puspa. Tidak seperti biasa, tiba-tiba Nyonya Evi mengalihkan pengkambinghitaman menjadi sebuah pertanyaan yang seolah menyebarkan fokus kecurigaan ke seluruh ruangan. “Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di rumah ini ketika Mama pergi?” Sontak Puspa dan sekar Saling melirik tampa berani berpandangan langsung. Walau memasang tampang bingung, kedua wanita ini menaruh curiga satu sama lain. Kecurigaan mereka bukanya tidak beralasan. Wajar, Sekar dicurigai oleh Puspa, jika melihat gaya hidupnya yang serba mengarah ke pergaulan bebas dengan segala keburukanya. Tidak jarang ia mendapati adiknya membawa lawan jenis (apapun itu) kerumah, bahkan kekamarnya. Kecurigaan Sekar pada Puspa juga suatu hal yang lumrah jika melihat tingkah laku Puspa yang sangat anti lawan jenis (apapun itu). Asumsikan bahwa penolakan itu terjadi akibat trauma sebuah hubugan di luar batas dan kemauanya. Namun ketidakpercayaan itu lebih banyak dipengaruhi faktor jarangnya komunikasi diantara mereka, juga sedikit akibat terlalu banyak infotainment. Kembali dalam ruangan itu Puspa dan Sekar saling mengeluarkan gerutuan-gerutuan tanpa arti yang mulai membuat kuping Nyonya Evi panas.
“Jadi sebaiknya kita apakan bayi orok ini?” adalah pertanyaan alihan karena pertanyaan pertama tidak terjawab, atau...tidak tahu ah! Yang jelas raut wajah orang-orang di ruangan itu berubah drastis, sedrastis nada bicara Nyonya Evi yang hilang dari kesan bentakan.
“Mah! kita ambil aja! Luchu banget ni mah! dari dulu adek kan pengen punya adek. Biar adek jadi kakak. Ya mah... lagian percuma kita serahin ke polisi. Kan bayi itu udah di buang ma ortunya. Mamah akuin jadi anak aja. Kan tinggal bayar aja buat bikin aktenya. polisi juga bisa kita bayar kan? ya mah... mama baek deh” Sontak Sekar angkat bicara dengan nada yang manja sambil setengah merengek.
“Ga setuju Mah, Kita ga perlu ada tambahan anggota baru lagi di rumah ini. Bayi kaya gitu ga boleh ada di rumah ini. Dia cuma jadi beban buat keluarga kita! Bayi itu perawatanya ngerepotin mah. Belum lagi biaya tambahan yang harus masuk APBR (Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah) kita! Lagiandia itu cowok mah! sudah bertahun-tahun kita hidup tanpa mereka. Dan sebenarnya memang kita ga butuh mereka, ketika semua pekerjaan mereka bisa kita tangani, dan satu-satunya kebutuhan atas mereka dapat dipenuhi dengan tekhnologi, untuk apa lagi mereka ada? Mereka Cuma makhluk egois yang selalu ingin menguasai segala hal. Hingga tuhanpun mempunyai masalah gender dengan sebutan ‘He’ pada alkitab. Juga dalam aspek sejarah ketika Adam tercipta pertama kali, dan Hawa tercipta dari tulang rusuknya hingga Nafsu yang dihembuskan kaum kita, yang membuat manusia jatuh ke jurang kenistaan...”
“Cukup Puspa! jangan kaitkan ini dengan masalah idealisme kamu yang amburadul! kamu masih terlalu dini untuk berbicara masalah gender. Mengenai pemeliharaan akan dilakukan oleh bik nah agar kegiatan kita tidak terganggu. dan mama janji Bayi ini masuk biaya Non-budgeter” Protes Puspa langsung terhenti seketika karena nada Nyonya Evi yang semakin meninggi. Ia terdiam seketika dan Nyonya Evi kembali melanjutkan ‘pidatonya’
“Mama putuskan bayi ini sekarang menjadi penghuni baru rumah kita. Dengan penaggung jawab dibebankan kepada kita semua.. Statusnya di rumah ini adalah adik dari Puspa dan sekar. Keputusan Mama tidak bisa diganggu gugat. Ia tidur di kamar tamu yang disebelah tangga. Mengenai hak asuh, segera mama proses. Jika masih ada yang ingin memprotes silahkan langsung ngomong sama mama!” Sebuah keputusan yang cukup aneh, dibahasakan dengan aneh pula oleh Nyonya Evi. Namun apa daya kedua wanita lain dan satu perempuan oleh dominasi sang pemilik rumah?
Jadilah bayi itu diadopsi oleh keluarga Nyonya Evi. dan diberi nama Surya oleh Nyonya Evi sendiri. Surya sesuai dengan namanya adalah faktor penting dari kehidupan di bumi. khusunya tanaman dan bunga-bungaan. Surya tumbuh menjadi anak yang sehat dan makin menggemaskan seiring dengan pertambahan umurnya. Kulitnya putuh bersih, dengan pipi yang selalu merona merah. Semua anggota keluarga yang lain terkecuali Puspa, sagat menyukainya. Namun mungkin semua rasa itu hanya sebatas suka belaka. karena mereka tidak cukup mempunyai jiwa keibuan, atau tidak cukup mau mempunyai jiwa keibuan untuk merawat Surya. Selama pertumbuhanya bik nah-lah yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk merawa Surya. Tangan-tangan terampilnya-lah yang selalu menggantikan popoknya jika terlalu penuh, memberikan susu, menyuapi, menidurkan, dan segala sesuatu yang diperlukan seorang ibu untuk merawat bayi. Ia melakukan semua itu dengan sabar dan ikhlas karena sudah menganggap Surya sebagai anaknya sendiri. Tangan-tangan Sekar dan Nyonya Evi terlalu bersih dan terlalu sibuk untuk melakukan semua hal keibuan itu. Nyonya Evi semakin sibuk dengan bisnis, organisasi, dan pola hidup mewahnya. Demikian pula Sekar, juga menyibukkan diri dengan menelantarkan pendidikan untuk membangun popularitasnya yang semakin menanjak. Kehidupan hedonisme serasa semakin merasuk dalam tulang sumsum dan aliran darahnya, dengan terus menegakkan panji-panji kehidupan bebas. apalagi Puspa yang bintangnya mulai naik, sebagai tokoh pergerakan emansipasi nasional yang terkenal. Semua wanita itu telah meninggalkan Ground mereka dengan sebuah sisi keperempuanan. Bisa dibilang mereka sudah terlalu sukses sebagai wanita yang independen, bahkan dependable. Namun ada satu hal yang tidak bisa dilewatkan. Wanita mana saja bisa meninggalkan kodrat keperempuanan mereka untuk berkembang. Namun sifat dasar yang distempelkan tuhan dalam nurani perempuan tiada pernah bisa hilang. Hal itu mulai nampak pada suatu hari ketika Surya sudah mulai menginjak umur yang ke lima tahun, dimana ia tidak lagi menggemaskan, karena mulai menginjak umur yang mengharuskanya mencoba hal-hal baru, yang biasanya disebut nakal. Ia berada pada umur yang ingin mendapat perhatian lebih, dan berfikir untuk berbuat yang menarik perhatian. Hingga pada suatu hari, sepulang dari pekerjaan Puspa mendapati kamarnya berantakan, dan banyak berserakan krayon warna milik adiknya. Hal itu sudah kesekian-kalinya terjadi hingga...
“Suryaaaaaa... Kamu ngacak-acak kamar kakak lagi yah? sini kamu!” teriak Puspa berulang-ulang sambil berkeliling rumah mencari adiknya. Sampai ia menemukan adiknya itu sedang bermain di kamar Sekar. Menolak untuk tertangkan, Surya kecil berlari kabur dengan Puspa mengejar dibelakangnya. Pengejaran berlanjut hingga taman, dan menghancurkan kebun bunga milik Puspa. Tanpa toleransi pada anak kecil Puspa lalu menangkap adiknya itu dan menjewer telinganya hingga berdarah. Belum puas ia lalu memukulkan batang sapu ke kaki adiknya hingga ia tidak sanggup berdiri, dan hanya bisa menangis.
Maka kembali malamya sekitar pukul sebelas , dimana semuanya terpaksa pulang lebih awal diadakan Rapat, di ruang keluarga lagi. Percakapan dimulai dengan pertanyaan Nyonya Evi.
“Coba jelaskan Puspa, apa yang terjadi siang tadi, hingga sore ini Surya harus dirawat di ICU dan mama harus mengeluarkan satu juta rupiah untuk membuat propaganda di rumah sakit?”
“Mama Nggak mikir? ini awal upaya anak itu melakukan penindasan pada kita. Kita akan kembali ke zaman sebelum tahun 1920, ketika kita hanya menjadi alas kaki laki-laki, Liat kamar Puspa ma! Liat kebun belakang! ini nggak terjadi sekali dua kali. Kenapa nggak ada yang percaya ama Puspa? anak itu biang penindasan! Puspa nggak mau lagi anak itu di rumah ini!” Ujar Puspa denagn lugas dan mantap.
“Trus Gimana menurut Sekar?” Nyonya langsung menodong Sekar yang baru bergabung, karena baru datang.
“S...Sekar Sebenernya ga setuju ma kata-kata kakak. Tapi, kayaknya lebih baik memang adik ga ada di rumah ini deh. Daripada besok-besok ada kasus yang bisa bikin kita semua susah? kita kan udah ga punya kehidupan pribadi. terlalu banyak kamera di luar pintu rumah kita ma! Sekar ga mau kalo image Sekar rusak cuman gara-gara beginian.” Pendapat Sekar keluar dengan lebih dewasa dibanding terakhir mereka rapat lima tahun lalu. Di sudut ruangan terlihat bik nah dengan wajah berlinang air mata memikirkan tuan kecilnya yang berada di ICU, dan kemungkinan ia akan keluar dari rumah itu.
“Lalu apakah ada ide, dimana kita bisa menempatkan Surya di luar rumah?...oooh sebentar. bagaimana menurut pendapat kalian jika Surya kita tempatkan di Boarding School? Kata temen mama kemaren ada Boarding Shcool yang baru diresmikan di daerah luar kota, kabarnya cukup bagus. bagaimana menurut kalian jika Surya kita tampatkan di situ?” Suara Nyonya Evi yang mengandung keterpaksaan seperti dipaksakan untuk se-santai mungkin.
“Terserah, yang penting Banish!!!” jawab Puspa ketus.
“Iya mah bener! kan kita juga bisa menjenguk setiap saat ntar!” ujar Sekar dengan semangat yang dipaksakan.
Benar saja Sampai Surya Lulus SMA, Ia tidak pernah dikunjungi keluarga itu. Hanya Uang yang selalu ia terima lewat wesel, yang kadang-kadang berserta surat dari bik nah yang menanyakan keadaanya. Sehingga hanya ada bik nah sebagai satu-satunya keluarga yang ia punya. Sampai akhirnya hubungan itu putus sama sekali ketika Surya memulai kehidupanya sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia, Depok dengan beasiswa prestasi yang ia dapat dengan usahanya sendiri. Ia bukan lagi bagian dari keluarga Nyonya Evi. Nama Nyonya Evi hanya hadir pada angket-angket yang diisinya, walaupun dengan tanda tangan palsu. Angin takdir yang bertiup seiring kerja keras Surya membuahkan hasil, dengan kehidupanya usai menyelesaikan semua pendidikan, sebagai pengusaha sukses ibukota dengan pengaruh politik yang sangat kuat, dan menjadi orang tersibuk di negara ini sekarang. Angin takdir pulalah yang membuatnya menemukan surat-surat bik nah di masa SMA dan teringat kenangan Perempuan itu, yang lebih banyak ada di dalam surat. Iapun berupaya mencari rumah, dimana ia pernah dirawat. Iapun kembali ke Malang. Namun populasi penduduk yang tidak terkendali memaksa kompleks dimana dulu rumah itu pernah berdiri, brubah menjadi pasar tradisional, hingga Surya harus berupaya keras mencarinya.
Tepat pukul 17.00 Surya menemukan rumah penuh kenangan itu. Kondisinya amat tidak terawat. Bangunanya hampir tidak memiliki bentuk warna cat, dan halaman yang dulu pernah dipenuhi mobil-mobil hebat, sekarang menjadi tempat sampah sementara pasar tradisional. Surya dengan agak ragu melangkahkan kakinya dan memencet bel di sebelah pintu. Beberapa waktu kemudian muncul seorang bertubuh kurus yang dikenalnya sebagai bik nah. satu-satunya Perempuan yang ia kenal sebagai anggotakeluargam yang sudah ia anggap sebagai ibu. Namun Perempuan itu tidak mengenalinya sebagai Surya. Bik nah hanya mempersilahkan Surya duduk di ruang keluarga. Ruang keluarga yang sama dengan yang beberapa kali digunakan untuk membahas nasibnya. dengan kondisi perabot yang masih tetap sama, namun tentunya dengan umur dan kondisi jauh berbeda. Lalu bik nah pun bertanya
“Aden siapa ya? ada perlu apa? ibu kan sudah bilang tunggakan Listrik bulan kemarin akan dibayar tanggal sepuluh besok?”
“Bik... Ini Surya bik... bik nah lupa?
“Surya siapa ya? tukang ledeng yang kemarin datang?”
Setelah beberapa puluh tebakan yang salah dan beberapa pengingat yang diajukan Surya, akhirnya bik nah teringat juga. Seketika itu juga, Perempuan itu jatuh bersimbuh dan membasahi celana Surya dengan air mata seorang ibu. Setelah beberapa puluh menit penuh tangisan dan suasana mengharu-biru, bik nah mulai bercerita tentang apa yang terjadi selepas sang surya pergi.
“ Setelah awakmu masuk ke sekolah berasrama, tanpa diketahui penyebabnya Nyonya Evi mendadak menjadi sering mendekam di kamarnya, dan memangkas habis kegiatan-kegiatanya. Ia terlihat seperti orang yang bingung. terlebih ketika kakakmu Puspa masuk Rumah Sakit Jiwa Porong akibat menderita paranoia akut hingga skizophrenia, pada laki-laki. Ia diketahui menjadi psikopat yang merencanakan puluhan pembunuhan berantai. Nyonya Evi sudah berusaha semampunya untuk mengendalikan propaganda, namun ia tidak bisa membendung kekuatan massa, terlebih setelah tidak aktifnya dia di perusahaan dan organisasi karena masalah regenerasi. Sementara kakakmu Sekar sudah menjadi tenar di ibukota sana pasti kamu sudah mendengar juga kan? Ia membeli identitas baru lewat pers, dan melupakanrumah ini. Memang mungkin terlalu banyak aib di rumah ini. bik nah sendiri, setelah tidak ada yang menggaji, bibik cari kerja di perusahaan Nyonya. beruntung diterima jadi mandor pabrik, jadi bisa ngirimin wesel ke kamu... bibik heran disaat semua pada meninggalkan rumah, kamu malah kembali...ooo cah gemblung! Sebentar bibik ke belakang dulu” tanpa sempat surya berkata apa-apa, bik nah sudah ngeloyor ke belakang.
Dalam penantianya, ingatan tentang rumah itu dan keluarga Nyonya Evi muncul layaknya hantu hologram slide show di depan matanya silih berganti. Dengan lima tahun keberadaanya, dan membaca sekian banyak penjelasan situasi dan karakter building di atas, Surya berpikir, mungkin itu adalah kondisi beberapa karakter wanita pada titik maksimum yang berkembang menjadi overmaksimum, dan terlalu jauh dari pijakan yang sudah dikodratkan. Menyadari pemikiranya yang terlalu konyol senyum simpul, tersungging secara otomatis di bibirnya.
Setelah setengah jam menunggu, bik nah datang dengan mendorong wanita kurus, bertinggi badan sekitar 163cm diatas kursi roda. Bik nah lalu menedekati Surya dan berbisik.
“Kamu lihat wanita tua di atas kursi roda itu? Ia baru terkena stroke hingga seluruh tubuhnya lumpuh. Dialah sebenarnya ibu kandungmu, yang menaruhmu di tempat sampah walaupun tidak bermaksud membuangmu. Ia hanya tidak ingin orang tahu di puncak publisitas sebagai tokoh wanita mandiri, ia mempunyai anak dari bapak yang tidak jelas, akibat kehidupan bebas yang ia jalani Sehingga pada masa kehamilanya ia mengungsi sementra untuk bersembunyi sekaligus melahirkanmu. Supaya tidak jadi seolah-olah ia membawa pulang bayi, maka tepat sebelum biasa bik nah buang sampah ia memindahkan anak dari dalam mobilnya ke tempat sampah. Sebenarnya kasih sayangnya berlebih padamu. Terbukti dengan menyerahkan semua warisanya ke kamu. termasuk rumah ini setelah ia nanti mangkat. ia adalah majukan bibik. Namanya Nyonya Evi. Cepat...
Sebelum bik nah sempat menyelesaikan kalimatnya Surya sudah langsung memeluk ibunya yang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis. Surya juga tidak dapat membendung airmatanya dan ditumpahkanya kepangkuan ibunya yang berbalut daster warna ungu. Sudah berakhirlah penantian Nyonya Evi. Ia sudah bertemu anak laki-laki semata wayangnya, setelah puluhan tahun tidak bertemu. Cukup sebagai alasan untuk menghela nafas terakhir dengan anaknya menangis di atas pangkuanya.
No comments:
Post a Comment